en | ch | bh | ru
290 Orchard Road #06-06, Paragon Shopping Centre, Singapore 238859
Serat
Pendahuluan

Pembedahan kini semakin maju, dan “teknologi tinggi” secara umum digunakan setiap hari, baik dalam percakapan maupun dalam praktik. Ilmu bedah bukan sekadar tentang cara bagaimana melakukan pembedahan, tetapi juga mengenai dasar molekuler untuk pembedahan serta fisiologi dasar, biokimia dan, tentu saja anatomi. Bedah kolorektum, tentu saja terutama berhubungan dengan penyakit saluran gastro-intestinal bawah melalui prosedur bedah. Dalam beberapa tahun ini, telah terdapat banyak kemajuan hebat dalam setiap aspek ilmiah dan pengobatan saluran gastro-intestinal bawah. Dengan semua kemajuan ini, sering muncul situasi, di mana ahli bedah menyadari bahwa kenyataan dalam praktik sehari-hari tidak terikat dengan "kebijaksanaan" konvensional. Kembali ke dasar, masih merupakan seruan yang baik. Oleh sebab itu, meskipun tidak bermaksud membesar-besarkan hal yang sepele, namun kami pun tidak akan melakukannya seandainya kami tidak bisa membedakan dua hal yang serupa, tapi tak sama. Satu hal yang paling penting adalah memahami hubungan antara pola makan dan defekasi (BAB).

Tujuan makan

Salah satu bahaya nyata kehidupan di dunia modern, adalah membanjirnya informasi yang bertubi-tubi dari semua tingkat yang bisa dipercaya. Bagaimana dan apa yang patut dimakan, adalah sesuatu yang selalu dimanipulasi oleh media di sekeliling kita. Masalah dari penyebaran informasi massa ini adalah, terlalu banyak dokter yang terbawa arus sehingga mempercayai informasi tersebut!

Salah satu contoh dari hal ini adalah "Anda harus makan serat agar BAB lancar!" Sebelum kita dapat memahami, mengapa hal ini merupakan masalah, kita harus terlebih dahulu memahami tujuan makan.

Memang, apa saja yang kita makan? Ada empat alasan utama, mengapa manusia harus makan. Pertama, kita makan untuk memperoleh nutrisi. Nutrisi mencakup segala yang kita butuhkan untuk berkembang dan tetap hidup, misalnya, protein, lemak, karbohidrat, mineral, vitamin. Kedua, kita harus makan untuk memperoleh energi yang diperlukan untuk bekerja setiap hari, bermain, reproduksi, dll. Sumber Energi termasuk kabrohidrat, lemak, dll. Ketiga, kita makan untuk memenuhi selera, sehingga sering kali kita makan sesuatu bukan karena kebutuhan nutrisi atau keperluan energi, tetapi karena kita menyukai rasanya. Soal rasa bersifat individual dan kultural. Makanan bagi seseorang, mungkin merupakan racun bagi orang lain. Terakhir, kita juga makan untuk alasan sosial atau bermasyarakat. Hal ini kadang mencakup makanan yang rasanya tidak enak bagi yang memakannya, tetapi harus dimakan, karena lingkungan sosial. Ibu mertua tidak selalu merupakan ahli masak yang baik! Namun demikian, kita tidak seharusnya memakan sesuatu hanya karena ingin menyenangkan orang lain.

Menyenangkan orang lain adalah efek samping, bukan tujuan untuk makan
  1. Tidak masuk akal untuk menyalurkan lebih banyak tinja
    Makanan bagi tubuh manusia seperti bahan bakar untuk mobil. Bahan bakar ini memungkinkan mesin untuk berfungsi. Lalu, mengapa kita memiliki anus? Ini sama alasannya, bahwa mobil memiliki saluran buang. Makanan yang kita makan tidak seluruhnya dapat dicerna, dan sebab itu tidak dapat sepenuhnya terserap. Bahan makanan yang ditolak oleh tubuh harus dibuang. Selain itu, terdapat juga bakteri mati, sel curahan dan sekresi yang harus dibuang. Orang tidak menaruh bahan bakar ke dalam mobil untuk meningkatkan emisi saluran buang. Demikian pula halnya, tidaklah masuk akal untuk makan makanan demi meningkatkan pengeluaran dari anus. Sudah cukup bagi tubuh untuk membuang bagian apa pun dari makanan yang dimakan, karena empat alasan yang tercantum di atas, yang tidak dapat dicerna dan tidak ingin disimpan sebagai limbah.
  2. Serat menjadi tinja
    Bagaimanapun, bagian makanan yang tidak tercerna dan tidak diinginkan, yang harus dibuang, akan menjadi bagian kecil makanan jika serat berlebih yang tidak tercerna tidak dikonsumsi. Namun demikian, serat diet yang berlebihan adalah penyebab utama konstipasi (sembelit), sakit perut dan perut kembung yang saya temui dalam praktik, tapi tetap merupakan gejala-gejala yang paling dapat diobati dengan pemberian resep obat! Salah satu efek serat diet yang terdokumentasi paling baik adalah tinja ukuran besar atau peningkatan produksi tinja1. Massa tinja tambahan yang terjadi dengan asupan serat yang lebih banyak dapat berupa bahan tumbuhan yang tidak terfermentasi atau bakteri. Konsentrasi cairan tinja biasanya tidak terpengaruh oleh penambahan serat. 1 Serat yang tidak dapat dicerna menghasilkan lebih banyak bakteri tinja daripada diet lainnya1. Serat yang amat mudah dicerna tidak merangsang pertumbuhan mikroba setidaknya di kalangan sukarelawan muda yang sehat1. Pada kenyataannya, serat memiliki berat dan volume: Serat juga tidak dapat dicerna. Oleh sebab itu konsumsi serat akan menyebabkan pembentukan masalah tinja yang lebih berat dan volumenya lebih besar di dalam rektum. Perhatikan penampilan sayuran dan biji-bijian yang dicerna secara minimal dalam tinja setelah ditelan. Dasar penambahan tinja setelah makan lebih banyak serat adalah serat diet tambahan 2-4.
  3. Produksi tinja dan pengeluaran tinja adalah dua proses yang berbeda.
    Banyak ahli bedah menyadari bahwa makan serat menghasilkan tinja. Hal ini memang benar, tetapi tidaklah masuk akal apabila pasien dengan konstipasi diminta untuk makan lebih banyak serat. Membingungkan? Untuk memahami konsep ini kita harus merenung sejenak. Penyebab utama serta efek konstipasi idiopati adalah akumulasi dan kesulitan dalam pengeluaran tinja. Pertanyaannya, apakah tinja ini? Seperti yang telah kami katakan sebelumnya, bagian yang besar adalah serat yang tidak tercerna. Sekarang, serat membuat tinja menjadi besar. Serat yang sangat sulit dicerna memiliki kapasitas penahanan air yang rendah1. Oleh sebab itu, serat menyebabkan tinja yang besar dan keras seperti dikiaskan oleh kata-kata yang berarti bahan yang kasar dan besar. Tinja besar dan keras lebih sulit dikeluarkan daripada tinja lunak yang lebih tipis, dan sebab itu cenderung menimbulkan sembelit. Ya, memang benar, serat menjadi tinja, tetapi pada orang yang cenderung mengalami konstipasi (sembelit), pengeluaran tinja tidak terjadi dan karenanya menghasilkan sembelit. Massa tambahan yang disebabkan oleh diet serat tinggi hanya akan tampak jelas dibandingkan dengan cairan dalam tinja pada kolon distal, dan tidak bermanfaat untuk propulsi distal kandungan lumenal dalam usus kecil maupun dalam kolon kanan, di mana volume cairannya melimpah, apapun serat diet yang mungkin ada. Dua hal dapat terjadi apabila pasien diberi makan serat yang lebih banyak. Pertama, banyak orang yang mengalami ketidaknyamanan di bagian perut, kembung dan kejang, yang kemudian disebut sebagai konstipasi yang berkaitan dengan penyakit usus yang mengesalkan. Berdasarkan tindakan massa, tinja yang lebih besar dan keras dapat mendorong keluar tinja besar yang lebih jauh. Namun demikian, hal ini menjadi siklus ganas yang secara terus-menerus memerlukan jumlah serat diet yang besar untuk dibuang. Akan lebih mudah mengeluarkan tinja tipis dalam jumlah sedikit yang biasanya dihasilkan oleh diet serat rendah yang normal.
  4. Bahan tumbuhan tanpa fermentasi bisa larut tetapi tidak mengurangi jumlah bakteri tinja dan tidak mengurangi penyerapan bahan berbahaya.
    Katanya, serat diet menambah keras aliran tinja yang kemudian melarutkan kandungan luminal kolon, dan karenanya mengurangi konsentrasi bahan berbahaya2. Namun demikian, serat pada bagian kolon manapun yang mengecualikan rektum, sesungguhnya hanyut dalam tinja cair dan oleh sebab itu tidak memiliki efek pelarutan pada bakteri atau bahan berbahaya apa pun. Apa pun bakteri atau bahan berbahaya yang terdapat di sini, bahan nutrisi sudah terlebih dahulu diserap oleh usus kecil dan kolon kanan. Jika serat dapat mencegah penyerapan bahan berbahaya, maka hal ini akan juga mencegah penyerapan nutrien! Tentu saja hal ini tidak terjadi, sama seperti pencegahan penyerapan bahan berbahaya yang tidak pernah ditunjukkan telah terjadi dengan penelanan serat. Lebih jauh lagi, meskipun pelarutan terjadi, hal ini tidak sama dengan mengurangi jumlah mutlak dari bahan berbahaya atau bakteri. Pada kolon kanan, tinja cair melimpahi jumlah serat, berapapun banyaknya serat yang tertelan, dan apapun yang dapat diserap akan sudah terserap jauh sebelum bentuk padat tinja yang secara aktual melarutkan bahan berbahaya yang mencapai rektum.
Kesimpulan

Bertentangan dengan yang secara umum dipercayai, ternyata serat tidak membantu memudahkan konstipasi maupun mencegah efek samping konstipasi (sembelit). Pada kenyataannya, ini merupakan salah satu penyebab konstipasi yang lebih penting 5-6.

Referensi
  1. Forsum E, Eriksson C, Goranzon H, Sohlstrom A. Komposisi tinja dari subjek manusia yang mengkonsumsi serat berdasarkan makanan konvensional yang mengandung berbagai jenis dan jumlah serat diet. British Journal of Nutrition 1990: 64; 171-86.
  2. S Kurasawa, V S Haack, J A Marlett.Residu Tumbuhan dan Bakteri sebagai Dasar Peningkatan Berat Tinja yang Menyertai Konsumsi Pola Makan Serat Diet yang Lebih Tinggi. Journal of the American College of Nutrition, 2000: 19; 426-433.
  3. Stephen AM, Cummings JH:Mekanisme tindakan serat diet dalam kolon manusia.Nature 284: 283–284, 1980.
  4. Chen H-L, Haack VS, Janecky CW, Vollendorf NW, Marlett JA:Mekanisme di mana kulit gandum dan kulit oat (padi) meningkatkan berat tinja pada manusia.Am J Clin Nutr 68: 711–719, 1998.
  5. Tan KY, Seow-Choen F. Seerat dan penyakit kolorektum:pemisahan fakta dari fiksi. World J Gastroenterology 2007;13; 4161-7
  6. Chuwa EWL, Seow-Choen F. Serat Diet. Br J Surg 2006: 93: 3-4
Kirim Enquiry:

Silahkan isi formulir atau info kontak di bawah ini untuk menghubungi kami . Kami akan hadir untuk pertanyaan Anda / umpan balik secepat kami bisa. Terima kasih!

Konta Informasi
Seow-Choen Colorectal Centre Pte Ltd
290 Orchard Road
#06-06 Paragon Shopping Centre
Singapore 238859
Telp: 6738 6887
Faks: (65) 6738 3448
Email: info@colorectalcentre.com
Jam Operasi:
Senin sampai Jumat: 9am - 5pm
Duduk: 9am - 1pm
Ditutup pada hari Minggu dan Libur